Kamis, 13 Desember 2012

IODIUM


BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
       Sebagai orang yang bekerja di bidang kesehatan, kita sering mendapat pertanyaan dari masyarakat tentang bagaimana cara memilih garam itu beryodium atau tidak pada saat akan membelinya. Hal ini memang sulit dilakukan, karena garam pada umumnya sudah terbungkus rapi dan kita tidak dapat menentukan beryodium atau tidak dengan hanya melihat atau mengecapnya. Dengan demikian, salah satu tahap awal adalah membeli merk tertentu dalam jumlah sedikit atau bungkus kecil saja dulu, untuk dilakukan uji kandungan yodium1.
       Cara yang paling mudah untuk menguji kandungan yodium dalam garam adalah dengan menggunakan cairan uji, yang saat ini banyak digunakan adalah “Iodina test”1.
       Zat pewarna makanan alami sejak dulu telah dikenal dalam industri makanan untuk meningkatkan daya tarik produk makanan tersebut, sehingga konsumen tergugah untuk membelinya. Namun celakanya sudah sejak lama pula terjadi penyalahgunaan dengan adanya pewarna buatan yang tidak diizinkan untuk digunakan sebagai zat aditif2.
       Contoh yang sering ditemui di lapangan dan diberitakan di beberapa media massa adalah penggunaan bahan pewarna Rhodamine B, yaitu zat pewarna yang lazim digunakan dalam industri tekstil, namun digunakan sebagai pewarna makanan. Berbagai penelitian dan uji telah membuktikan bahwa dari penggunaan zat pewarna ini pada makanan dapat menyebabkan kerusakan pada organ hati. Pada uji terhadap mencit, diperoleh hasil ; terjadi perubahan sel hati dari normal menjadi nekrosis dan jaringan disekitarnya mengalami disintegrasi atau disorganisasi2.
       Zat warna/pewarna makanan secara umum dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu : zat warna alami, zat warna yang identik dengan zat warna alami, dan zat warna sintetis2.
I.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :
1.      Untuk mengetahui kadar iodium dalam garam beriodium dengan metode titrimetri.
2.      Untuk menganalisa bahan aditif dalam bahan makanan (pewarna).




















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
       Iodium adalah sejenis mineral yang terdapat di alam, baik di tanah maupun di air, merupakan zat gizi mikro yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan mahluk hidup, terutama manusia. Bila tanah miskin akan iodium maka semua tanaman (termasuk sayuran dan buah-buahan) yang tumbuh di atasnya juga miskin iodium. Ternak yang hidup di daerah tersebut juga akan mengalami kekurangan iodium. Sebagai dampaknya, manusia yang hidup di lingkungan demikian dapat dipastikan juga akan mengalami kekurangan iodium1.
       Berikut ini “tips” untuk memilih garam beryodium, yang dapat disosialisasikan ke masyarakat1:
1.      Pilihlah garam yang dikemas dan berlabel “Garam Beryodium”, ada nomor MD atau SP, isi/berat kemasan, kandungan yodium 30-80 ppm, nama produsen.
2.      Pilihlah kemasan yang rapi dan tidak rusak.
3.      Pilihlah garam yang putih dan kering, tidak lembab atau basah.
4.      Beli sedikit dulu (kemasan kecil) untuk diuji di rumah, kalau perlu beberapa merk, untuk pegangan dalam pembelian selanjutnya.
Tips-pilih-garam:
5.       Hindari memilih garam bata/briket apalagi yang tidak dikemas, kecuali telah
anda uji pada setiap bagian (luar dan dalam) dan hasilnya cukup.
6.       Apabila sudah dilakukan uji terhadap merk tertentu, pembelian selanjutnya
tidak perlu lagi dilakukan uji.
7.       Pilihlah kemasan kecil agar penyimpanan di rumah tidak terlalu lama, untuk
menghindari proses pelembaban akibat terbukanya kemasan.
       Iodium ada di dalam tubuh dalam jumlah sangat sedikit, yaitu sebanyak kurang lebih 0,00004% dari berat badan atau 15-23 mg. Sekitar 75% dari iodium ini ada di dalam kelenjar tiroid, yang digunakan untuk mensintesis hormone tiroksin, tetraiodotironin, dan triiodotironin. Hormon-hormon ini diperlukan untuk pertumbuhan normal, perkembangan fisik dan mental hewan dan manusia. Sisa iodium ada di dalam jaringan lain, terutama di dalam kelenjar-kelenjar ludah, payudara, dan lambung serta di dalam ginjal. Di dalam darah iodium terdapat dalam bentuk iodium bebas atau terikat dengan protein3.
       Laut merupakan sumber utama iodium. Oleh karena itu, makanan laut berupa ikan, udang, dan kerang serta ganggang laut merupakan sumber iodium yang baik. Di daerah pantai, air dan tanah mengandung banyak iodium sehingga tanaman yang tumbuh di daerah pantai mengandung cukup banyak iodium. Semakin jauh tanah itu dari pantai semakin sedikit pula kandungan iodiumnya, sehingga tanaman yang tumbuh di daerah tersebut termasuk rumput yang dimakan hewan sedikit sekali atau tidak mengandung iodium. Salah satu cara penanggulangan kekurangan iodium ialah melalui fortifikasi garam dapur dengan iodium. Fortifikasi garam dengan iodium sudah diwajibkan di Indonesia3.
       Pada kekurangan iodium, konsentrasi hormone tiroid menurun dan hormone perangsang-tiroid/TSH meningkat agar kelenjar tiroid mampu menyerap lebih banyak iodium. Bila kekurangan berlanjut, sel kelenjar tiroid membesar dalam usaha meningkatkan pengambilan iodium  oleh kelenjar tersebut. Bila pembesaran ini menampak dinamakan gondok sederhana. Bila terdapat secara meluas di suatu daerah dinamakan gondok endemic. Gondok dapat menampakkan diri dalam bentuk gejala yang sangat luas, yaitu dalam bentuk kretinisme di satu sisi dan pembesaran kelenjar tiroid pada sisi lain3.
       Gejala kekurangan iodium adalah malas dan lamban, kelenjar tiroid membesar, pada ibu hamil dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin, dan dalam keadaan berat bayi lahir dalam keadaan cacat mental yang permanen serta hambatan pertumbuhan yang dikenal sebagai kretinisme. Seorang anak yang menderita kretinisme mempunyai bentuk tubuh abnormal dan IQ sekitar 20. Kekurangan iodium pada anak-anak memyebabkan kemampuan belajar yang rendah3.
       Kekurangan iodium banyak terdapat di daerah pegunungan yang jauh dari laut, karena tanahnya sangat kurang mengandung iodium. Kekurangan iodium berupa gondok endemic merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia yang terdapat secara merata di daerah pegunungan di seluruh propinsi, kecuali DKI Jakarta. Menurut data dari Departemen Kesehatan tahun 1990, prevalensi rata-rata gondok total di daerah endemic adalah 27,7%, sedangkan gondok nyata 6,8%3.
       Suplemen iodium dalam dosis terlalu tinggi dapat menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid, seperti halnya kekurangan iodium. Dalam keadaan berat hal ini dapat menutup jalan pernapasan sehingga menimbulkan sesak napas3.
       Pengobatan gondok biasa dilakukan dengan memberikan zat iodium melalui suntikan. Pada tahun 1980-an program ini dikenal sebagai program suntikan lipiodol. Yaitu suatu preparat larutan minyak beriodium yang mengandung 480 miligram zat iodium per 1 mililiter larutan. Satu kali suntikan intramuskuler (melalui otot) dengan dosis 0,5-1 mililiter dapat melindungi dari Gaki selama 3-5 tahun4.
       Sasaran dari suntikan ini adalah bayi, anak, dan dewasa di daerah rawan Gaki. Namun di Indonesia program ini mengalami banyak kesulitan. Pertama, program ini memerlukan tenaga khusus yang terlatih untuk dapat menyuntik. Kedua, umumnya penduduk untuk disuntik sehingga menghindar. Ketiga, harga larutan lipiodol relatif mahal. Keempat, untuk mencapai daerah sasaran yang kebanyakan terpencil dan sulit dicapai4.
       Penampilan makanan, termasuk warnanya, sangat berpengaruh untuk menggugah selera. Penambahan zat pewarna pada makanan bertujuan agar makanan lebih menarik. Zat pewarna sendiri secara luas digunakan di seluruh dunia. Di Indonesia, sejak dahulu orang banyak menggunakan pewarna makanan tradisional yang berasal dari bahan alami, misalnya kunyit untuk warna kuning, daun suji untuk warna hijau dan daun jambu untuk warna merah. Pewarna alami ini aman dikonsumsi namun mempunyai kelemahan, yakni ketersediaannya terbatas dan warnanya tidak homogen sehingga tidak cocok digunakan untuk industri makanan dan minuman. Penggunaan bahan alami untuk produk massal akan meningkatkan biaya produksi menjadi lebih mahal dan lebih sulit karena sifat pewarna alami tidak homogen sehingga sulit menghasilkan warna yang stabil. Kemajuan teknologi pangan pangan memungkinkan zat pewarna dibuat secara sintetis. Dalam jumlah yang sedikit, suatu zat kimia bisa memberi warna yang stabil pada produk pangan. Dengan demikian produsen bisa menggunakan lebih banyak pilihan warna untuk menarik perhatian konsumen5.
       Berikut ini beberapa alasan utama menambahkan zat pewarna pada makanan5:
1.      Untuk memberi kesan menarik bagi konsumen.
2.      Menyeragamkan warna makanan dan membuat identitas produk pangan.
3.      Untuk menstabilkan warna atau untuk memperbaiki variasi alami warna. Dalam hal ini penambahan warna bertujuan untuk untuk menutupi kualitas yang rendah dari suatu produk sebenarnya tidak dapat diterima apalagi bila menggunakan zat pewarna yang berbahaya.
4.      Untuk menutupi perubahan warna akibat paparan cahaya, udara atau temperatur yang ekstrim akibat proses pengolahan dan selama penyimpanan.
5.      Untuk menjaga rasa dan vitamin yang mungkin akan terpengaruh sinar matahari   selama produk disimpan.
       Zat pewarna pada makanan secara umum digolongkan menjadi dua kategori yaitu zat pewarna alami dan zat pewarna sintetis. Zat pewarna alami merupakan zat pewarna yang berasal dari tanaman atau buah-buahan. Secara kuantitas, dibutuhkan zat pewarna alami yang lebih banyak daripada zat pewarna sintetis untuk menghasilkan tingkat pewarnaan yang sama. Pada kondisi tersebut, dapat terjadi perubahan yang tidak terduga pada tekstur dan aroma makanan. Zat pewarna alami juga menghasilkan karakteristik warna yang lebih pudar dan kurang stabil bila dibandingkan dengan zat pewarna sintetis. Oleh karena itu zat ini tidak dapat digunakan sesering zat pewarna sintetis. Zat pewarna sintesis merupakan zat pewarna buatan manusia. Zat pewarna sintetis seharusnya telah melalui suatu pengujian secara intensif untuk menjamin keamanannya. Karakteristik dari zat pewarna sintetis adalah warnanya lebih cerah, lebih homogen dan memilliki variasi warna yang lebih banyak bila dibandingkan dengan zat pewarna alami. Di samping itu penggunaan zat pewarna sintetis pada makanan bila dihitung berdasarkan harga per unit dan efisiensi produksi akan jauh lebih murah bila dibandingkan dengan zat pewarna alami. Para konsumen pun hendaknya selalu mendapatkan informasi tentang komponen-komponen yang terkandung dalam zat pewarna sintetis tersebut5.
Tabel perbedaan antara zat pewarna sintetis dan alami
Pembeda
Zat pewarna Sintetis
Zat pewarna alami
Warna yang dihasilkan
Lebih cerah
Lebih homogen
Lebih pudar
Tidak homogen
Variasi warna
Banyak
Sedikit
Harga
Lebih murah
Lebih mahal
Ketersediaan
Tidak terbatas
Terbatas
Kestabilan
Stabil
Kurang stabil
       Pemerintah sendiri telah mengatur penggunaan zat pewarna dalam makanan. Namun demikian masih banyak produsen makanan, terutama pengusaha kecil, yang menggunakan zat-zat pewarna yang dilarang dan berbahaya bagi kesehatan, misalnya rhodamine B sebagai pewarna untuk tekstil atau cat yang pada umumnya mempunyai warna yang lebih cerah, lebih stabil dalam penyimpanan, harganya lebih murah dan produsen pangan belum menyadari bahaya dari pewarna tersebut5.
       Zat warna sintetis dipakai sangat luas dalam pembuatan berbagai macam makanan. Zat warna tersebut dapat dicampurkan dan akan menghasilkankisaran warna yang luas. Pemakaian zat warna oleh industri pangan jumlahnya boleh dikatakan tidak begitu banyak, yaitu biasanya tidak lebih dari 100 mg per kg produk . Pemakaian zat warna sintetis dalam industri pangan5.




BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

III.1  Alat dan Bahan
1.    Zat Warna Sintesis
       Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah gelas kimia, pipet tetes, gunting, dan lempeng tetes.
       Bahan yang digunakan adalah HCl encer (1 +9), NaOH 10%, HCl pekat, H2SO4 pekat dan NH2OH 12%, sirup A, sirup B, sirup C, sunlight, dan tissue.
2.    Penentuan Iodium Dalam Garam Beriodium
       Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah timbangan analitik, erlemeyer, spatula, pipet volume atau pipet skala, bola karet, gelas ukur dan beaker gelas.
       Bahan yang digunakan adalah garam beriodium, KI 10 %, H2SO4 2 N, Na2S2O3 0,005 N, K2Cr2O7 0,005 N Amilum 1 %, KI 20 % dan HCl 6 N, tissue, dan sunlight.

III.2  Prosedur Percobaan
1.    Zat Warna Sintesis
1.    30-50 ml contoh cairan diasamkan sedikit dengan larutan HCl encer. Jika padatan, campur 25 gr contoh dengan air kemudian homogenkan baru diambil 30-50 ml.
2.    Dimaksukkan benang wol ke dalam larutan, dididihkan selama 30 menit.
3.    Benang wool diangkat, cuci dengan air dingin.
4.    Dikeringkan, dipotong menjadi 4 bagian.
5.    Ditempatkan keempat potongan benang wool diatas lempeng tetes kemudian masing-masing potongan ditetesi dengan zat yang berbeda yaitu NaOH 10%, HCl pekat, NH4OH 12% dan H2SO4 pekat.
6.    Diamati perubahan yang terjadi, bandingkan dengan standar daftar warna.
2.    Pengujian Iodium
1.    Ditimbang 10 gr bahan dimasukkan ke dalam erlemeyer.
2.    Ditambahkan 50 ml akuades matang (sisakan 20 ml), ditambahakan KI 10%. Penambahan KI ditambahan 2 ml H2SO4  2N, lau erlenmayer ditutup dan simpan di tempat yang gelap selama 10 menit.
3.    Dibilas tutup erlenmayer dengan sisa akuades 20 ml, kemudian titrasi dengan Na Thiosulfat 0,005N sampai warna coklat kekuningan.
4.    Lakukan standarisasi iodometri.
5.    Ditimbang 0,0061 gr K2Cr2O7 ke dalam erlemeyer 250 ml, lalu ditambahkan 25 ml akuades. Dikocok hingga kalium dikronat larut. Ditambahkan 7,5 ml KI 20% dan 15 ml HCl 6N. Larutan dititrasi dengan Na2S2O3 0,005 N dengan menggunakan indikator kanji. Dengan perubahan warna dari biru tua menjadi tak berwarna.












BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil
IV.1.1 Tabel Pengamatan
1. Pengujian Zat Warna Sintesis
Jenis Sampel
Warna Yang Diamati Setelah Penambahan Zat
NaOH 10%
HCl Pekat
H2SO4 Pekat
NH4OH 12%
Minuman bubuk
Tidak Berwarna
Tidak Berwana
Kuning
Tidak Berwarna
Sirup H
Coklat

Hijau Biru
Cokelat kemerah-merahan
Tidak berwarna
Sirup F
Tidak Berwarna
Merah
Ungu Kecoklatan
Tidak berwarna

2. Penentuan Kadar Iodium
Pengamatan
Normalitas Na2S2O3
Kadar KIO3 (ppm)
Kadar Iodium (ppm)
10 gram garam
5682 x 10 -5
3850 x 10 -5
2187 x 10-5

      IV.1.2 Gambar Hasil
1. Penentuan Zat Warna Sintesis
       



Rounded Rectangle: menganalisis berbagai zat warna sintesis dalam bahan makanan 



 2. Penentuan Iodium
                       
Rounded Rectangle: Penentuan Iodium    
     

IV.1.3 Perhitungan
      1. Penentuan Kadar Iodium                                                                 
mg K2Cr2O7                          =  0, 5 gr   = 500 mg
BM KIO3                              =  214
Normalitas Na2S203       =  mg K2Cr2O7
Fp xV x49
                                                =      500 mg
4 x 449 ml
                                                = 5682 x 10-6 N
           Kadar KIO3 (ppm)    = ml Na2S203 x N Na2S203 x BM KIO3 x  x
                                      = 1,9 x 5682 x 10-6 N x 2214 x   x
                                      = 3850 x 10-5 mg
Kadar Iodium (ppm)     = Berat atom I x Kadar KIO3
                                                    BM KIO3
                                              = 121,54 x 3850 x 10-5
                                                   214
                                              = 2187 x 10-5 ppm
IV.2 Pembahasan
IV.2.1 Pengujian Zat Warna Sintesis
Percobaan ini dilakukan dengan mengasamkan larutan dengan sedikit HCl encer. Kemudian dimasukan benang wol putih yang tidak berlemak. Untuk mengetahui kadar atau dosis zat warna tambahan yang digunakan jarang sekali dilakukan analisisnya. Penambahannya hanya sebagai bahan untuk memperindah atau menarik selera konsumen, atau dengan kata lain penambahan tersebut dilakukan secukupnya saja, sesuai selera. Penambahan yang terlalu banyak akan mengakibatkan warna menjadi jelek dan mempengaruhi rasa.
Pada percobaan zat warna sintesis ini bahan yang digunakan adalah sirup. Pada minuman bubuk warna yang teramati setelah penambahan zat NaOH 10% yaitu tidak berwarna sama sekali, pada HCl pekat tidak berubah, H2SO4 berubah jadi warna kuning dan NH4OH 12% kembali tidak berwarna. Hasil warna dari sirup H saat ditambahkan NaOH 10% coklat, ditambahkan HCl pekat hijau biru dan Fe berubah saat ditambah NaOh 10%, berubah jadi merah saaat ditambah HCl pekat dan tidak berwarna saat ditambah NH4OH 12%.
Setelah penambahan zat NaOH 10%, HCl pekat, H2SO4 jenuh, dan NH4OH 12% dapat diketahui zat warna yang terkandung dalam sirup yang diamati. Pada minuman bubuk terkandung zat warna acid magenta yang ditandai dengan tidak terjadinya perubahan warna saat sirup ditambahkan zat HCl pekat dan NH4OH serta NaOH. Pada sirup H dan F kandungan zat pewarna sintetisnya tidak terdeteksi.  Setelah dicocokkan perubahan warna yang terjadi dengan daftar perubahan warna pada tabel lampiran tidak diperoleh kecocokan.
Hasil yang diperoleh pada pengamatan ini menunjukkan hasil yang tidak sama persis dengan lampiran daftar perubahan warna serat wol oleh berbagai pereaksi. Hal ini dapat disebabkan oleh tidak akuratnya proses percobaan yang dilakukan lalu jumlah serat wol ataupun reagen pereaksi yang digunakan, juga waktu pemanasan dan pendinginan serat wol. Tetapi zat warna sintesis yang terkandung dapat diketahui karena ada beberapa perubahan warna yang sama atau mendekati perubahan-perubahan warna yang tercantum pada tabel. Kandungan pewarna sintesis juga tidak terdeteksi dari sirup, hal ini disebabkan tidak terdapat kecocokan antara perubahan warna yang terjadi saat pengamatan dengan perubahan warna yang tercantum pada daftar lampiran. Hal ini disebabkan karena sirup yang digunakan sudah mengalami proses penyimpanan yang lama sehingga pewarna sintesis yang terkandung di dalamnya juga setelah bereaksi dengan reagen pereaksi tidak menunjukkan perubahan warna yang semestinya.
    IV.2.2 Pengujian Iodium 
       Percobaan iodium ini dilakukan dengan pengujian kadar KIO3, pengujian kadar iodium, dan normalitas Na22O3. Pada pengujian kadar KIO3 didapatkan hasil yaitu 25682 x 10-5 ppm. Pada pengujian kadar iodium didapatkan hasil yaitu 123,19 ppm dan pada pengujian normalitas Na22O3 didapatkan hasil yaitu 582 x 10-5N.
       Iodium merupakan mineral yang termasuk unsur gizi esensial walaupun jumlahnya sangat sedikit di dalam tubuh, yaitu hanya 0,00004% dari berat tubuh atau sekitar 15-23 mg. Itulah sebabnya iodium sering disebut sebagai mineral mikro. Manusia tidak dapat membuat unsur iodium dalam tubuhnya seperti ia membuat protein atau gula. Kadar iodium dalam garam beriodium cukup tinggi, sehingga garam ini dapat dipakai sebagai bahan makanan sumber iodium keluarga.
Manusia harus mendapatkan iodium dari luar tubuhnya (secara alamiah), yaitu melalui serapan dari iodium yang terkandung dalam makanan dan minuman. Kebutuhan tubuh akan iodium rata-rata mencapai 1-2 mikrogram per kilogram berat badan per hari. Iodium diperlukan tubuh terutama untuk sintesis hormon tiroksin, yaitu suatu hormon yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid yang sangat dibutuhkan untuk proses pertumbuhan, perkembangan, dan kecerdasan. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dalam waktu lama, kelenjar tiroid akan membesar untuk menangkap iodium, yang lebih banyak dari darah. Pembesaran kelenjar tiroid tersebutlah yang sehari-hari kita kenal sebagai penyakit gondok. Pengertian tentang defisiensi iodium saat ini tidak terbatas pada gondok dan kretinisme saja, tetapi ternyata defisiensi iodium berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia secara laus, seperti tumbuh kembang, termasuk perkembangan otak. Defisiensi iodium dapat menyebabkan gangguan akibat kekurangan iodium (GAKI).















BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
             Adapun kesimpulan dari percobaan yang telah dicobakan adalah:
1.         Pada minuman bubuk terkandung zat warna acid magenta yang ditandai dengan tidak terjadinya perubahan warna saat sirup ditambahkan zat HCl pekat dan NH4OH serta NaOH. Pada sirup H dan F kandungan zat pewarna sintetisnya tidak terdeteksi.  Setelah dicocokkan perubahan warna yang terjadi dengan daftar perubahan warna pada tabel lampiran tidak diperoleh kecocokan.
2.           Pada percobaan iodium ini ada beberapa pengujian diantaranya pengujian kadar KIO3, pengujian kadar iodium, dan normalitas Na22O3. Pada pengujian kadar KIO3 didapatkan hasil yaitu 25682 x 10-5ppm. Pada pengujian kadar iodium didapatkan hasil yaitu 123,19 ppm dan pada pengujian normalitas Na22O3 didapatkan hasil yaitu 582 x 10-5N.

V.2 Saran
       Adapun saran untuk praktikum pada hari ini adalah:
1.         Praktikum sebaiknya dimulai sesuai dengan jam yang telah disepakati bersama.
2.         Alat dan bahan yang digunakan saat praktikum sebaiknya telah disiapkan dan diatur dengan baik sehingga akan lebih memudahkan dalam pengerjaan praktikumnya.
3.         Asisten diharapkan lebih sabar lagi dalam membimbing praktikannya baik pada saat praktikum dilakukan ataupun dalam proses penyusunan laporan.




DAFTAR PUSTAKA

1.         Sirajuddin, Saifuddin dkk. 2011. Pedoman Praktikum Analisis Bahan Makanan. Makassar: Laboratorium Terpadu Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin.

2.         Yuliarti, Nurheti. 2007. Awas Bahaya Di Balik Lezatnya Makanan. Yogyakarta: Andi Offser.

3.         Winarno. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
4.         Almaitser, Sunita. 2010. Prinsip dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama

5.         Poedjiadi, Anna. 2009. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: Universitas Indonesia.

















LAMPIRAN
1.   Penentuan Iodium       
Ditimbang + 10 gram bahan
 
Ditambah 50 ml akuades matang
 
Dimasukan ke Erlenmeyer setelah larut.
 
                              




 


Erlenmeyer ditutup
 
Setelah itu ditambahkan KI 2ml
 
Ditambahkan 2 ml H2SO4 2N
 
                      




 
   
Setelah itu bilas tutup erlenmeyer dengan sisa akuades 20ml
 
Setelah 10 menit disimpan
 
Disimpan di tempat gelap selama 10 menit
 
                      



 


Lalu ditambahkan 25 ml akuades
 
Ditimbang + 0,0061 gram K2CrO7 ke dalam erlenmeyer 250ml
 
Dititrasi dengan Na Thiosulfat 0,005N sampai warna coklat kekuningan
 
                      



 




Dengan perubahan warna dari biru tua menjadi tak berwarna
 
Dititrasi larutan dengan Na2S2O3 0,005N dengan menggunakan indikator kanji.

 
Kocok hingga kalium dikromat larut. Setelah itu ditambahkan 7,5ml KI 20% dan 15ml HCl 6N

 
                    














2.      Penentuan Zat Warna Sintesis














IMG00811-20111017-1000.jpg






30-50 ml contoh cairan diasamkan sedikit dengan larutan HCl encer. Jika padatan, campur 25 gr contoh dengan air kemudian homogenkan baru diambil 30-50 ml

 

Dimaksukkan benang wool ke dalam larutan, dididihkan selama 30 menit

 




 










                                                                                                                        





 
                                                                                             











Benang wool diangkat, cuci dengan air dingin

 

Setelah dididihkan selama 30 menit

 







 




041120103188                                                                    




 









Diamati perubahan warna yang terjadi, dibandingkan dengan standar daftar warna



 

Benang wol dibagi 4 dan diletakkan dip alt tetes lalu masing-masing ditetesi dengan NaOH 10%, NH4OH, H2SO4 pekat, dan HCL pekat.
 

 



                                                                            






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut