Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Juni 2012

KOLONIS “KOMIK LONTARA BUGIS” BERBASIS KEARIFAN LOKAL SULAWESI-SELATAN DALAM MENYIKAPI ARUS GLOBALISASI


PENDAHULUAN
Latar Belakang
       Indonesia merupakan negara yang kaya akan berbagai potensi. Baik dari segi Sumber Daya Alam (SDA) maupun Sumber Daya Manusia (SDM). Tidak hanya itu, Indonesia juga dikenal sebagai Negara yang memiliki keanekaragaman budaya yang dinilai sebagai aset dan identitas bangsa. Keanekaragaman budaya Indonesia merupakan sesuatu yang tak ternilai harganya. Keanekaragaman budaya tersebut berupa kebudayaan sukubangsa, masyarakat dan berbagai kebudayaan daerah bersifat kewilayahan (Balqis, 2009).
       Akan tetapi, saat ini keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh Indonesia mengalami suatu permasalahan dan gejolak yang luar biasa yang tentunya memerlukan perhatian dari berbagai aspek dan komponen masyarakat. Salah-satu permasalahan yang kini mencuat kepermukaan adalah masalah hak cipta suatu  kebudayaan yang belum dilegalkan dan dipatenkan sehingga dengan mudahnya dicontek dan dicontoh oleh bangsa lain. Tak dapat dipungkiri bahwa daya tarik kebudayaan Indonesia begitu menawan di mata bangsa lain sehingga membuat mereka tertarik  untuk memilikinya. Maka tak heran apabila mereka berusaha untuk
menjiplak dan mencontoh  kebudayaan anak bangsa.
       Salah satu kebudayaan Indonesia yang sudah menjadi identitas adalah keragaman bahasa daerah yang memiliki ciri khas tertentu. Bahasa digunakan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain, demikian halnya dengan bahasa daerah. Walaupun cakupannya masih spesifik dan hanya digunakan pada daerah tertentu saja, akan tetapi budaya tersebut harus dilestarikan agar tidak tergeser dengan bahasa-bahasa lain yang menyebar di Indonesia.
Seiring dengan perkembagan masa dan kemajuan zaman, seiring itu pulalah berbagai arus pemikiran, budaya-budaya asing serta gaya hidup sudah masuk ke Indonesia. Arus modernisasi dan badai globalisasi melanda bangsa ini yang membuat kita seakan tak punya pilihan lain. Kemudian, kemajuan teknologi mutakhir yang kini menawarkan berbagai impian dan kesenagan yang akan berimbas pada pergeseran budaya lokal.
Tak dapat dipungkiri bahwa saat ini, dikalangan remaja maupun anak-anak sudah tidak membudayakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka lebih tertarik  untuk menguasai bahasa-bahasa asing dan secara perlahan akan meninggalkan identitas bahasa daerahnya bahkan banyak diantara mereka yang sudah tak mengerti lagi dengan bahasa daerah mereka. Seperti halnya di propinsi Sulawesi-Selatan, yang dikenal sebagai salah satu daerah pelopor bahasa daerah khususnya bahasa bugis. Bahasa bugis adalah bahasa pemersatu masyarakat bugis di berbagai daerah di Sulawesi-Selatan. Namun sayang saat  ini, di berbagai instansi pendidikan dari SD, SMP dan SMA/SMK sederajat di propinsi Soppeng  hanya beberapa instansi saja yang masih mengajarkan bahasa daerah bugis sebagai program pendidikan muatan lokal, sebagian besarnya lagi lebih menitikberatkan pada penguasaan bahasa \asing dan meninggalkan bahasa bugis. Selain dari itu, masyarakat Asli Sulawesi Selatan sudah banyak ditemukan kurang bisa menggunakan bahasa bugis secara aktif, dan sebagiannya lagi hanya bisa memahami secara pasif.  Hal ini haruslah menjadi perhatian agar bahasa daerah bugis tidak hilang khususnya di sulawesi selatan yakni dengan melakukan inovasi cara memahami bahasa bugis yang tidak hanya melalui pendidikan formal di sekolah.
Saat ini, minat baca  masyarakat khususnya remaja dan anak-anak didominasi oleh buku-buku fiksi dan karikatur bergambar seperti novel, cerpen dan komik. Karya fiksi merupakan (......). Melihat kecenderungan para remaja , maka hal ini dapat dijadikan sebagai suatu peluang untuk membangkitkan kembali bahasa bugis agar tidak tergeser oleh bahasa asing. Untuk itu, KOLONIS “KOMIK LONTARA BUGIS” diharapkan menjadi suatu rancangan inovasi yang selanjutnya akan menjadi solusi dalam menjaga dan melestarikan kearifan lokal  khususnya  bahasa bugis di kalangan remaja dan anak-anak bugis di Sulawesi-Selatan.

Tujuan
            Karya tulis ini bertujuan untuk memberikan solusi terhadap permasalahan pelestarian budaya bahasa dan lontara bugis Kabupaten Soppeng Sulawesi-Selatan melalui KOLONIS “KOMIK LONTARA BUGIS” sebagai suatu strategi dan inovasi dalam mejaga kearifan lokal bagi masyarakat Soppeng pada khususnya.
Manfaat
            Manfaat karya tulis ini adalah  meningkatkan kesadaran masyarakat akan cinta budaya lokal bugis serta dapat dijadikan sebagai rekomendasi pemerintah untuk mempopulerkan kembali bahasa bugis yang pernah buming di masa lalu dan kini tergeser oleh budaya dan bahasa-bahasa asing. Manfaat lain yang dapat diperoleh dalam pengembangan karya tulis ini adalah dengan KOLONIS kita juga dapat memperkenalkan sejarah dan kerajaan kabupaten soppeng beserta perkembangannya.
GAGASAN
Kolonis (Komik lontara Bugis) berbasis kearifan lokal di Sulawesi Selatan dalam menyikapi arus Globalisasi.
Kondisi kekinian
            Kebudayaan bangsa Indonesia merupakan sesuatu yang harus dijaga dan dilestarikan sebab kebudayaan tersebut merupakan aset yang tak ternilai harganya. Dari berbagai daerah dan suku  di Indonesia menjadikan Indonesia sebgai negara dengan keanekaragaman budayanya. Kebudayaan bangsa Indonesia inilah yang biasanya kita sebut kearifan lokal.  Misalnya baju adat, bahasa daerah, alat musik, dan sebagainya.
            Salah satu kearifan lokal yang ada di Indonesia  adalah Bahasa Bugis yang menjadi salah satu ciri khas masyarakat suku bugis di Sulawesi selatan. Bahasa bugis ditulis dengan huruf lontara yang biasanya disebut aksara lontara bugis. Huruf lontara adalah abjad dalam bahsa bugis. Namun, seiring dengan perkembangan zaman bahsa bugis seakan ditinggalkan oleh pemiliknya sendiri. Hal ini dapat dibuktikan dengansemakin berkurangnya minat untuk mempelajari bahasa bugis.
        Keluarga sebagai rumah pendidikan pertama bagi anak, sebagian besar tidak lagi menjadikan bahasa bugis sebagai bahsa komunikasi sehari-hari dengan keluarga khususnya masyarakat bugis di sulawesi selatan. Selain itu, yang juga patut menjadi perhatian adalah mata pelajaran di sekolah-sekolah di berbagai tingkatan baik itu SD, SMP, maupun SLTA, mata pelajaran muatan lokal tidak lagi diisi dengan pelajaran bahasa daerah tetapi di ganti dengan pelajaran bahsa asing seperti bahasa jerman, jepang dan  lain-lain. Tak dapat dipungkiri bahwa penguasaan bahasa asing memang penting adanya, akan tetapi basa daerah sendiri tentunya tak boleh ditinggalkan bahkan harus diwariskan kepada generasi selanjutnya sebagai sebuah asset yang tak ternilai harganya.
            Selain hal tersebut diatas, hal yang juga seharusnya menjadi perhatian adalah kurangnya ketertarikan pada bahasa bugis, demikian pula halnya dengan ketertarikan terhadap cerita-cerita bersejarah masyarakat bugis. Pada umumnya, anak-anak dan remaja lebih menynagi bacaan-bacaan seperti komik, majalah, dan novel dibandingkan dengan membaca buku-buku sejarah bugis yang ada padahal banyak sekali sejarah tokoh-tokoh bugis yang dapat di telaah dan mendapat hikmah dan pembelajaran dari kisah tersebut dan tidak menutup kemungkinan menjadi faktor pembentuk karakter yang baik.

PENGARUHGLOBALISASI
 Menurut asala katanya, kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang maknanya universal. Achmad Suparman menyatakan globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individulisasi di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali defini kerja, sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya.  Ada yang memandang sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi, dan budaya masyarakat (Afdjani, 2007).
Di sisi lain ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mutkhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengerah besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama. Theodore Levitte merupakan orang yang pertama kali menggunakan istilah Globalisasi pada tahun 1985.
Dampak Globalisasi Media Terhadap Budaya dan Perilaku Masyarakat
Globalisasi media massa merupakan proses yang secara nature terjadi, sebagaimana jatuhnya sinar matahari, sebagaimana jatuhnya hujan atau meteor. Pendekatan profesional menjadi kata kunci, masalah dasarnya mudah diterka. Pada titik - titik tertentu, terjadi benturan antar budaya dari luar negeri yang tak dikenal oleh bangsa Indonesia. Jadi kehawatiran besar terasakan benar adanya ancaman, serbuan, penaklukan, pelunturan karena nilai – nilai luhur dalam paham kebangsaan (Afdjani, 2007).
Imbasnya adalah munculnya majalah-majalah Amerika dan Eropa versi Indonesia seperti : Bazaar ,Cosmopolitan ,Spice,FHM, (for Him Magazine) ,Good Housekeeping ,Trax, dan sebagainya. Begitu juga membanjirnya program tayangan dan produk tanpa dapat dibendung. Sehingga bagaimana bagi negara berkembang seperti Indonesia menyikapi fenomena traspormasi globalisasi terhadap prilaku masyarakat dan budaya lokal, karena globalisasi media dengan segala yang dibawanya seperti lewat televisi, radio, majalah, koran, buku film, vcd, HP, dan kini lewat internet sedikit banyak akan berdampak pada kehidupan masyarakat.
Saat ini masyarakat sedang mengalami serbuan yang hebat dari berbagai produk pornografi berupa tabloitd, majalah, buku bacaan di media cetak, televisi, rasio, dan terutama adalah peredaran bebas VCD. Baik yang datang dari luar negeri maupun yang diproduksi sendiri. Walaupun media pernografi bukan barang baru bagi Indonesia, namun tidak pernah dalam skala seluas sekarang. Bahkan beberapa orang asing menganggap Indonesia sebagai ”surga pornografi” karena sangat mudahnya mendapat produk-produk pornografi dan harganya pun murah.
Kebebasan pers yang muncul pada awal reformasi ternyata dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat yang tidak bertanggung jawab, untuk menerbitkan produk-produk pornografi. Mereka menganggap pers mempunyai kemerdekaan yang dijamin sebagai hak asasi warga Negara dan tidak dikenakan penyensoran dan pembredelan. Padahal dalam pasal 5 ayat 1 Undang-undang pers No 40 tahun 1999 itu sendiri, mencantumkan bahwa: ”pers berkewajiban memberikan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat”.
Menurut Afdjani (2007) bahwa Globalisasi pada hakikatnya ternyata telah membawa nuansa budaya dan nilai yang mempengaruhi selera dan gaya hidup masyarakat. Melalui media yang kian terbuka dan kian terjangkau, masyarakat menerima berbagai informasi tenteng peradaban baru yang datang dari seluruh penjuru dunia. Padahal, kita menyadari belum semua warga degara mampu menilai sampai dimana kita sebagai bangsa berada. Begitulah, misalnya banjir informasi dan budaya baru yang dibawa media tak jarang teramat asing dari sikap hidup dan norma yang berlaku. Terutama masalah pornografi dimana sekarang wanita–wanita Indonesia sangat terpengaruh oleh trend mode dari Amerika dan Eropa yang dalam berbusana cenderung minim,yang kemudian ditiru habis-habisan.
Di sini pemerintah dituntut untuk bersikap aktif tidak masa bodoh melihat perkembangan kehidupan masyarakat Indonesia. Menghimbau dan kalau perlu melarang berbagai sepak terjang masyarakat yabg berperilaku yang tidak semestinya. Misalnya ketika Presiden Susilo Bambang Yudoyono menyarankan agar televisi tidak merayakan goyang erotis denga puser atau perut kelihatan. Ternyata dampaknya cukup terasa, banyak televisi yang tidak menayangkan artis yang berpakaian minim.

SOLUSI YANG PERNAH DITAWARKAN

            Mengenai masalah yang sudah dijelaskan tadi sebenarnya telah ada usaha dari berbagai pihak yang telah menangani masalah tersbut. Diantaranya adalah dengan mutan lokal bahasa daerah di sekolah. Akan tetapi, pada kenyataannya hal ini masih belum mampu menjadikan bahasa bugis tidak ditinggalkan oleh pemiliknya. Di sebagian besarsekolah-sekolah utamanya tingkat SMP dan SMA tidak lagi menjadikan bahasa daerah bugis sebagai pelajaran muatan lokal. Akan tetapi lebih menitik beratkan pada penguasaan bhasa asing ataupn yang lainnya seperti komputer. Selain itu salah satu penanganan yang sering dilaksanakan adalah dengan pagelaran seni budaya. Dalam pagelaran seni budaya bugis biasanya ditampilkan tari-tari tradisional bugis, sajak-sajak berbahasa bugis, drama berbahasa bugis dan lagu-lagu darah. Akan tetapi pagelaran seni budaya bugis hanya dilaksanakan pada moment-moment tertentu saja misalnya pada saat dirgahayu kabupten atau kota yang ada disulawesi selatan. Untuk itu kita membutuhkan sebuah solusi yang tidak hanya bisa diimplementasikan pada waktu-waktu tertentu saja akan tetapi kapa pun bisa didapatkan serta tidak mestidalam pendidikan formal dan tetntunya bisa menarik perhatian.


GAGASAN BARU
Kolonis “komik lontara bugis” berbasis kearifan lokal Sulawesi-selatan

Setelah melihat dan menelaah kondisi masyarakat bugis di Sulawesi-selatan saat ini, maka dianggap perlu untuk menciptakan suatu karya dan inovasi sebagai sarana pengembagan kecintaan masyarakat bugis terhadap bahasa dan aksara bugis berbasis kearifan lokal. Maka dari itu, kami menawarkan suatu gagasan yang berjudul KOLONIS “komik lontara bugis” berbasis kearifan lokal Sulawesi-selatan.
Kolonis merupakan suatu rancangan karya sastra daerah bugis yang isinya berupa tulisan dan aksara bugis yang dihiasi dengan gambar-gambar unik yang mengisahkan sejarah-sejarah masyarakat Sulawesi-selatan. Sejarah merupakan kisah-kisah yang terjadi pada masa lampau yang dapat dijadikan sebagai pembelajaran untuk hal-hal yang positif. Dengan hadirnya kolonis ini diharapkan mampu meningkatkan kembali kecintaan masyarakat bugis terhadap adat dan budayanya dalam menggunakan bahasa bugis. Kemudian, dengan kisah-kisah sejarah yang ditawarkan juga diharapkan menjadi edukasi dan pembelajaran bagi masyarakat dan generasi muda pada khususnya yang mulai meninggalkan bahkan melupakan sejarahnya sendiri.
Menilik dan menelaah perkembagan komik diberbagai belahan daerah di dunia seperti japang yang pada umumnya menggunakan bahasa kanji maka KOLONIS ini menjadi sepak terjang untuk bersaing dalam bidang sasatra dengan Negara-negara lain.
Lontaraq adalah sebutan naskah bagi rakyat Sulawesi Selatan. Kata ini diambil dari bahasa Jawa/Melayu yaitu lontar atau palem tal (Borassus flabellifer). Dengan begitu, lontaraq adalah naskah yang ditulis pada daun tal, tradisi yang juga dilakukan oleh orang Sunda, Jawa, dan Bali dalam menulis naskah rontal mereka. Ada pula yang berpendapat bahwa secara etimologis kata lontarak terdiri dari dua kata: raung (daun) dan talak (lontar). Kata raung talak mengalami proses evolusi menjadi lontarak. Lontara bugis merupakan sebutan untuk aksara atau tulisan bugis yang memiliki ciri khas tertentu. Berikut adalah contoh aksara bugis tersebut (Alim, 2001).

Sumber:

Ada begitu banyak kisah dan sejarah masyarakat bugis di Sulawesi-selatan. Salah-satunya adalah sejarah ilagaligo. Dengan diangkatnya sejarah tersebut menjadi sebuah komik yang unik tentunya akan semakin menambah kepopuleran masyarakat bugis di Indonesia.
Filosofi dan Sejarah Aksara Lontara
Aksara Lontara (ada yang menyebutnya Lontaraq atau Lontarak) ialah aksara asli masyarakat Bugis, Makassar, dan Mandar di Sulawesi Selatan. Sebetulnya masih ada huruf Makassar Kuno, yang usianya lebih tua dari aksara Lontara. Namun yang kemudian lestari adalah Lontara. Ada yang berpendapat, bahwa Lontara ini berbeda dengan aksara-aksara lain di Indonesia seperti aksara Bali, Jawa, Lampung, Sunda, yang oleh sebagian besar filolog dikaitkan dengan aksara Pallawa dari India. Aksara Lontara ini tidak dipengaruhi budaya lain, termasuk india. Namun ada pula yang berpendapat bahwa aksara ini merupakan turunan dari Pallwa. Selain aksara sendiri, masyarakat Bugis menggunakan dialek sendiri yang dikenal dengan “bahasa Ugi”. Sementara itu, suku lainnya di Sulawesi Selatan yaitu Saqdan Toraja, tak memiliki tradisi menulis, hanya memiliki tradisi lisan (Andi, 2005).
Bentuk aksara Lontara, menurut budayawan Prof Mattulada, berasal dari “sulapa eppa wala suji”. Wala berarti “pemisah/pagar/penjaga”, dan suji yang berarti “putri”. Wala suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat. Sulapa eppa, berarti “empat sisi”, merupakan bentuk mistik kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan susunan semesta, yakni api-air-angin-tanah. Maka darki itu, bentuk aksara Lontara sendiri berbentuk segi empat (belah ketupat). Hal ini didasari pemahaman filosofis kultural masyarakat Makassar bahwa kejadian manusia berasal dari empat unsur, yaitu butta (tanah), pepek (api), jeknek (air), dan (anging) angin (Andi, 2005).
Menurut sejarah, aksara Lontara diperkenalkan oleh Sabannarak atau Syahbandar Kerajaan Gowa yang bernama Daeng Pamatte. Ketika Kerajaan Gowa diperintah oleh Raja Gowa IX Daeng Matanre Karaeng Manngutungi yang bergelar Karaeng Tumapakrisik Kallonna, Daeng Pamatte menjabati dua jabatan sekaligus yaitu Sabannarak merangkap Tumailalang (Menteri Urusan Istana dan Dalam Negeri). Pada waktu itu Karaeng Tumapakrisik Kallonna memberikan titah kepada Daeng Pamatte untuk menciptakan aksara yang dapat dipakai untuk tulis-menulis. Pada 1538, Daeng Pamatte berhasil mengarang aksara Lontara yang terdiri atas 18 huruf dan juga tulisan huruf Makassar Kuno. Akhirnya, aksara Lontara ini dipermoderen dan bentuknya lebih disederhanakan sehingga jumlah hurufnya menjadi 19, akibat masuknya pengaruh bahasa Arab (John, 2002).
Sistem Aksara Lontara
Aksara Lontara telah ada sejak abad ke-12. Aksara ini berjumlah 23 huruf  (termasuk bunyi konsonan dan vokal a) yang disusun berdasarkan aturan tersendiri. Dalam sistem aksara ini, dikenal penanda vokal untuk u, e, o, ae (Alim, 2001). Berikut tabel aksara Lontara:


Sumber:
Namun, aksara Lontara tidak mengenal hurup atau lambang untuk mematikan hurup misalnya sa menjadi s. Ketiadaan tanda-mati ini cukup membingungkan bila ingin menuliskan huruf mati. Juga, di banding aksara-aksara lain, aksara Lontara tak memiliki semua fonem. Beberapa huruf ditafsirkan secara teoretis dengan sembilan cara berbeda, dan ini juga kadang-kadang menimbulkan masalah bagi penafsiran pembaca. Maka dari itu, di masyarakat Bugis dikenal adanya elong maliung bettuanna, yakni nyanyian dengan makna tersembunyi. Misalnya kata buaja buluq (buaya gunung) merujuk pada macang (harimau). Ejaan macang sama dengan ejaan macca (pintar), yang menjadi makna turunan dari buaja buluq.
 Kebudayaan diciptakan karena adanya kebutuhan(needs) manusia untuk mengatasi berbagai problem yang ada dalam kehidupan mereka. Melalui suatu proses berfikir yang diekspresikan kedalam berbagai wujud. Salah satu wujud kebudayaan manusia adalah tulisan. Seperti halnya dengan wujud-wujud kebudayaan lainnya. Penciptaan tulisan pun diciptakan karena adanya kebutuhan manusia untuk mengabdikan hasil-hasil pemikiran mereka (Balqis, 2009).
Menurut Coulmas, pada awalnya tulisan diciptakan untuk mencatatkan firman-firman tuhan, karena itu tulisan disakralkan dan dirahasiakan. Namun dalam perjalanan waktu dengan berbagai kompleksitas kehidupan yang dihadapi oleh manusia, maka pemikiran manusia pun mengalami perkembangan demikian pula dengan tulisan yang dijadikan salah satu jalan keluar untuk memecahkan problem manusia secara umumnya. Seperti yang dikatakan oleh Coulmas “a king of social problem solving, and any writing system as the comman solution of a number of related problem” (1989:15)
    Begitu pula yang terjadi pada kebudayaan di Indonesia. Ada beberapa suku bangsa yang memiliki huruf antara lain. Budaya Jawa, Budaya Sunda, Budaya Bali, Budaya Batak, Budaya Rejang, Budaya Melayu, Budaya Bugis dan Budaya Makassar. Sementara bila ditempatkan dalam kebudayaan bugis, Lontaraq mempunyai dua pngertian yang terkandung didalamnya (Alim, 2001):
a.       Lontaraq sebagai sejarah dan ilmu pengetahuan
b.      Lontaraq sebagai tulisan
Kata lontaraq berasal dari Bahasa Bugis/Makassar yang berarti daun lontar. Kenapa disebuat sebagai lontaraq ? karena pada awalnya tulisan tersebut di tuliskan diatas daun lontar. Daun lontar ini kira-kira memiliki lebar 1 cm sedangkan panjangnya tergantung dari cerita yang dituliskan. Tiap-tiap daun lontar disambungkan dengan memakai benang lalu digulung pada jepitan kayu, yang bentuknya mirip gulungan pita kaset (Andi, 2005). Cara membacanya dari kiri kekanan. Aksara lontara biasa juga disebut dengan aksara sulapaq eppaq. Dimana karakter huruf bugis ini diambil dari Aksara Pallawa (Rekonstruksi aksara dunia yang dibuat oleh Kridalaksana). Berikut adalah skemanya:
 
  Skema diatas menjelaskan bahwa ternyata karakteristik aksara lontara bugis berawal dari aksara pallawa yang kemudian melahirkan aksara jawa, bugis, thai dan lain sebagainya.

KASET “KAFE SEHAT” BERBASIS EDUKASI NUTRISI PERSEMBAHAN UNTUK MASYARAKAT MAKASSAR


PENDAHULUAN
Latar Belakang
       Tantangan pembangunan suatu Bangsa adalah pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, sehat, cerdas dan produktif. Upaya pengembangan kualitas SDM dengan mengoptimalkan potensi tumbuh kembang masyarakat dapat dilaksanakan secara merata apabila sistem pelayanan kesehatan yang berbasis masyarakat dapat dilakukan secara efektif dan efisien serta dapat menjangkau semua sasaran yang membutuhkan layanan (Depertmen Kesehatan RI, 2006).
       Indonesia merupakan negara yang kaya akan industri kuliner yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Setiap daerah memiliki kuliner dengan cita rasa yang khas yang menjadikannya terkenal hingga ke kanca dunia. Mulai dari makanan tradisional seperti pecel, gudep, mpek-mpek, rendang, sate, coto, hingga makanan modern seperti pizza, burger, pan cake, spagethy tersebar di Indonesia.
       Industri kuliner di Indonesia begitu berkembang pesat namun hanya sedikit yang mengedepankan cita rasa yang enak dan mengutamakan kesehatan. Hal ini dapat dilihat dengan menjamurnya outlate fast food dari pinggiran jalan hingga restaurant berbintang, padahal kita telah ketahui bersama bahwa fast food merupakan makanan yang tidak sehat yang dapat berdampak pada timbulnya berbagai penyakit.
       Status gizi dan kesehatan merupakan salah satu faktor dari tiga faktor utama yang sangat menentukan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), selain pendidikan dan pendapatan (Azwar, 2004). Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi (Almatsier, 2009). Apabila jumlah zat gizi yang dikonsumsi tidak sesuai dengan kebutuhan gizi tubuh maka dapat menimbulkan masalah gizi yaitu gizi kurang dan gizi buruk. Gizi kurang terjadi apabila asupan gizi lebih rendah dari yang dibutuhkan tubuh, sedangkan gizi buruk terjadi apabila asupan gizi sangat rendah.
        Fast food merupakan makanan yang sangat mudah ditemukan utamanya di daerah perkotaan. Sebut saja daerah Makassar, yang dengan waktu sekejap kita dapat memperoleh makanan tersebut. Penyebaran fast food sebagai makanan modern dan bergengsi kini telah mewabah pada masyarakat Makassar. Padahal ditinjau dari  aspek kesehatan dan kandungan gizi yang terdapat pada fast food tersebut sangatlah tidak seimbang dengan yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Maka, inilah salah-satu faktor yang dapat mengakibatkan terjadinya masalah gizi.
       Melihat permasalahan tersebut, ternyata pemilihan makanan yang akan dikonsumsi sangat berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat. Untuk itu, maka dianggap perlu menciptakan suatu inovasi dan kreatifitas yang ideal untuk diterapkan pada masyarakat sebagai suatu solusi pemecahan masalah dalam pemberian alternatif tempat makan yang sehat dengan konsep edukasi nutrisi.
       KASET “Kafe Sehat” Berbasis Edukasi Nutrisi Persembahan untuk Masyarakat Makassar adalah konsep gagasan yang kami tawarkan. Dengan hadirnya kaset ini, diharapkan mampu menjadi alternatif solusi tempat makan yang ideal bagi masyarakat Makassar pada khususnya sehingga dapat memperkecil prevalensi masalah gizi akibat kesalahan konsumsi pangan. Disamping sebagai tempat makan yang sehat, gagasan ini juga menitikberatkan pada konsep edukasi dan pendidikan nutrisi. Bagaimana kita mengetahui dan memahami kandungan gizi yang terdapat dalam bahan pagan yang kita konsumsi setiap harinya.
Tujuan
        Karya tulis ini bertujuan untuk memberikan solusi terhadap permasalahan kesehatan dan gizi yang terjadi pada masyarakat Makassar karena kesalahan konsumsi pangan yang tidak sehat melalui KASET “Kafe Sehat” dengan konsep edukasi nutrisi.
Manfaat
       Manfaat karya tulis ini adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Makassar pada khususnya dan dapat menambah pengetahuan dengan pemberian edukasi nutrisi. Gagasan ini juga dapat dijadikan sebagai  rekomendasi kepada pemerintah untuk menurunkan prevalensi masalah gizi karena konsumsi pangan yang tidak aman.
GAGASAN
Kondisi Kekinian
       Masyarakat Makassar merupakan masyarakat yang beragam. Baik dari sisi ekonomi, maupun sosial dan budaya. Salah-satu budaya masyarakat Makassar adalah budaya mengonsumsi makanan-makanan yang fast food khususnya bagi kaum elit.  Fast food merupakan makanan yang diracik dengan kombinasi bahan dan bumbu dengan tidak mempertimbangkan unsure kesehatan atau kandungan gizi yang terdapat dalam setiap makanan pangan. Dengan mengonsumsi fast food, maka jelas hal tersebut dapat membahayakan kesehatan dan dapat menimbulkan terjadinya suatu penyakit yang tidak diinginkan.
       Salah-satu yang menjadi pertimbangan masyarakat memilih tempat dan lokasi makan yang ideal adalah konsep yang ditawarkan. Saat ini, di kota Makassar masih sangat sedikit tempat makan yang menawarkan konsep ideal dengan kombinasi makanan dengan cita rasa yang tinggi tanpa meninggalkan unsur-unsur kesehatan dan kandungan gizi terhadap menu yang ditawarkan. Kurangnya tempat makan yang ideal tentu menjadi dilema bagi masyarakat untuk mengonsumsi makanan yang lesat tapi juga tidak membahayakan kesehatan.
       Tempat makan yang ideal adalah tempat dengan lokasi yang stategis yang mengusung konsep kepuasan masyarakat sebagai konsumen baik dari segi cita rasa maupun segi kesehatan yang sangat vital. Selain itu, kecenderungan masyarakat kota juga ingin praktis dan instan khususya dalam segi konsumsi makanan. Mereka lebih memilih membeli makanan siap saji dengan menggunakan pengawet dan pemanis buatan atau yang sering kita dengar sebagai MSG daripada membuat dan meracik sendiri makanan dari sumber-sumber pangan alami secara manual dan natural.
         MSG merupakan berbagai kajian bumbu penyedap rasa dengan menggunakan bahan kimia yang sebenarnya dapat membahayakan kesehatan baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Dengan mengonsumsi makanan yang mengandung MSG maka tentunya akan berakibat fatal bagi peningkatan derajat mesehatan masyarakat khususnya di kota Makassar. Monosodium glutamat atau MSG adalah salah satu bahan tambahan makanan yang digunakan untuk menghasilkan flafour atau cita rasa yang lebih enak dan lebih nyaman ke dalam masakan, banyak menimbulkan kontroversi baik bagi para produsen maupun konsumen pangan karena beberapa bagian masyarakat percaya bahwa bila mengkonsumsi makanan yang mengandung MSG, mereka sering menunjukkan gejala-gejala alergi. Di Cina gejala alergi ini dikenal dengan nama Chinese Restaurant Syndrome (CRS) (Sri Handayani, 1996).
       Masalah kesehatan merupakan masalah yang sangat vital dan membutuhkan perhatian dari berbagai pihak dalam penanganan dan pencegahannya. Salah-satu pihak yang sangat berperan penting dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat Makassar selain pemerintah adalah para mahasiswa dan akademisi yang berlatarbelakang kesehatan khususnya ilmu gizi. Gizi merupakan suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses pencernaan, absobsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi. (Supariasa, dkk, 2002).
       Pemenuhan kebutuhan gizi mayarakat sangatlah penting dengan memperhatikan konsumsi makanan yang masuk kedalam mulut. Melihat dan menelaah masalah konsumsi pagan yang terjadi saat ini di kota Makassar sungguh sangatlah sulit mendapatkan tempat makan yang sehat dalam mencapai keseimbangan status gizi masyarakat.
       Status gizi adalah keadaan yang diakibatkan oleh status keseimbangan antara jumlah asupan (intake) zat gizi dan jumlah yang dibutuhkan (requirement) oleh tubuh untuk berbagai fungsi biologis: (pertumbuhan fisik, perkembangan, aktivitas, pemeliharaan kesehatan, dan lainnya). (Suyatno, 2009). Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu atau perwujudan dari nutrisi dalam bentuk variabel tertentu (Supariasa, dkk, 2002).
       Salah-satu solusi yang dapat kami tawarkan gizinya sebagai mahasiswa yang notabenenya sebagai mahasiswa gizi kesehatan masyarakat Universitas Hasanuddin dalam mengatasi keadaan masyarakat dengan ketidak seimbangan status adalah konsep KASET “Kafe Sehat” Berbasis Edukasi Nutrisi Persembahan untuk Masyarakat Makassar.
Solusi yang Pernah Ditawarkan
       Melihat kondisi kesehatan masyarakat Makassar  yang digemparkan dengan sulitnya menyeleksi dan menyaring makanan sehat yang dapat dikonsumsi, ternya ada beberapa hal yang telah dilakukan dalam pencegahan dan penanggulangan masalah tersebut, diantaranya adalah:
1.      Pemberian makanan tambahan
       Pemberian makanan tambahan merupakan salah-satu usaha yang telah dilakukan oleh pihak pemerintah dalam mencegah dan mengatasi prevalensi masalah gizi di Makassar. Pada dasarnya, masalah gizi sangat rentang terhadap anak-anak dan balita, untuk itu pemberian makanan tambahan diberikan kepada balita dan anak-anak. Penyebaran jajanan anak-anak (khususnya anak sekolahan) tentu tidak terlepas dari maraknya penyebaran bahan toksik yang dicampur dalam makanan tersebut untuk itu, dengan PMT ini setidaknya dapat memberikan asupan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh balita dan anak-anak.
       Tujuan dari pemberian makan tambahan adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan status gizi balita dari keluarga miskin. Menurut Depkes RI (1999) di dalam Handayani, mulasari, dan Nurdianis (2008) sasaran PMT balita adalah balita berusia 12-59 bulan. Pemberian makanan tambahan tersebut lamanya 90 hari (Depkes RI 2010).
       Dalam pengoprasionalannya solusi ini dipandang mampu memberikan pergerakan usaha pemecahan masalah gizi yang terjadi di masyarakat. Akan tetapi solusi ini dianggap kurang efektif untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Makassar karena sasarannya hanya pada golongan tertentu saja, yaitu anak-anak dan balita sementara masalah gizi juga banyak terjadi pada kalangan usia lainnya. Untuk itu dibutuhkan suatu solusi baru yang pengimplementasiannya menghimpun semua kalangan dan komponen masyarakat.
       Menurut Gesman, Hasanbasri, Lutfan dalam tulisannya berjudul Penanggulangn Gizi Buruk Studi Keterlibatan Puskesmas dan Ninik Mamak Alim Ulama Cerdik Pandai di Nagari Sungai Dareh Tahun 2008 mengatakan strategi penanggulangan gizi buruk yang dilaksanakan oleh puskesmas masih sebatas penanganan kasus atau strategi jangka pendek, penanganannya bersifat kuratif. Program untuk mencegah balita yang berstatus gizi kurang akan terjun ke gizi buruk sangat kurang, strategi yang ada hanya penanganan gizi buruk, cenderung bersifat dalam kerangka “kondisi darurat” (emergency), yang sama sekali tidak menyentuh konteks/akar masalah.
       Oleh karena itu, agar lebih efektif maka penanggulangan balita gizi kurang dan gizi buruk harus ditangani secara komperhensip atau menyeluruh yang didukukung dengan formula makanan tambahan yang lebih bernutrisi, bukan hanya sekedar pengobatan atau kuratif saat balita sudah dalam keadaan emergency namun harus dilakukan upaya preventif atau pencegahan agar balita tidak lagi mengalami masalah gizi setelah sembuh dari gizi kurang dan gizi buruk. Artinya masyarakat tidak terlalu bergantung sepenuhnya terhadap makanan tambahan yang diberikan oleh pemerintah sebagai tambahan asupan nutrisi melainkan mereka juga dapat menikmati sendiri berbagai formulasi makanan bergizi di kafe sehat yang kami gagas.
2.      Sosialisasi ( penyampaian imformasi)
       Semakin meningkatnya masalah gizi di daerah Makassar membuat beberapa pihak merasa penting untuk turun tangan dalam mengatasi. Salah-satu usaha yang paling memungkinkan dilakukan dalam mengurangi masalah gizi yang diakibatkan oleh kesalahan konsumsi yang tidak selektif adalah penyampaian informasi atau sosialisasi. Dalam pengimplementasiannya metode ini dapat melalu komunikasi langsung atau dua arah (interaksi dan diskusi) dapat pula berupa komunikasi satu arah. Sosialisasi langsung yang dilakukan adalah diskusi dan interaksi ke sekolah-sekolah, dan instansi umum serta masyarakat luas tentang bahaya mengonsumsi makanan yang mengandung toksik atau zat racun serta pentingnya memilih makanan yang sehat dan bergizi tinggi untuk dikonsumsi. Sementara sosialisasi tidak langsung dapat berupa poster, pamphlet, majalah, surat kabar dan media massa lainnya.
       Penyampaian informasi berupa sosialisasi akan berdampak pada penambahan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya hidup sehat dan selektif dalam memilih dan memilah makanan yang akan dikonsumsi. Akan tetapi sosialisasi ini dianggap kurang efektif dan efisien karena hanya beberapa waktu saja  informasi yang disampaikan tersebut bertahan dalam memori masyarakat. Setelah beberapa lama, mereka akan kembali kepada kondisi yang tidak sehat serta hidup yang praktis dan instan (khususnya masyarakat kota). Pengaplikasian informasi yang disampaikan pun bisa jadi tidak dilaksanakan, hanya sekedar informasi setelah itu kembali seperti sedia kala.
Gagasan Baru            
KASET “Kafe Sehat” Berbasis Edukasi Nutrisi Persembahan untuk Masyarakat Makassar
       KASET “Kafe Sehat” Berbasis Edukasi Nutrisi Persembahan untuk Masyarakat Makassar  merupakan suatu gagasan baru yang penulis tawarkan bertujuan untuk menanggulangi dan mencegah masalah gizi dan konsumsi pangan pada masyarakat Makassar melalui pemberian alternatif tempat makan yang sehat tampa melupakan cita rasa yang enak.
       Konsep yang kami gagas adalah suatu inovasi baru dalam menyikapi keadaan masyarakat yang sangat sulit mendapatkan makanan yang sehat dan bergizi. Arus modernisasi dan badai globalisasi saat ini telah merubah pandagan masyarakat tentang makanan yang dikonsumsi. Kebanyakan dari masyarakat saat ini lebih memilih makanan siap saji dan instant tanpa memperhatikan lagi unsur-unsur kesehatannya. Dengan hadirnya kafe sehat ini, diharapkan masyarakat bisa lebih dekat dengan gizi. Masyarakat dapat menikmati berbagai hidangan unik, sehat dan bergizi dengan cita rasa yang tetap enak dan tentunya harganya yang ekonomis.
       Varian menu yang ditawarkan dalam kafe sehat ini merupakan karya dan inovasi mahasiswa program studi Ilmu Gizi Universitas Hasanuddin yang telah diteliti terlebih dahulu kandungan gizinya. Selain ini, bahan baku dalam pembuatan menu yang akan kami tawarkan adalah bahan pangan lokal masyarakat Sulawesi-Selatan. Jadi selain menciptakan suatu karya dan inovasi baru konsep kafe sehat juga dinilai sebagai suatu alternatif solusi dalam pemanfaatan bahan pangan lokal yang efektif.
       Adapun beberapa menu yang kami tawarkan dalam konsep kafe sehat ini diantaranya adalah: umbul-umbul mie pelangi ceria, moringa tea, brownis ikan bandeng biskuit kelor, dll. Dengan nama dan tampilan yang menarik konsep kafe sehat ini sangat berpeluang untuk diterapkan ditengah masyarakat kota Makassar. Kecenderungan masyarakat untuk mencoba sesuatu menjadi sepak terjang dan peluang untuk mengimplementasikan gagasan kafe sehat ini.
       Selain menghadirkan suatu inovasi produk pangan yang sehat dan bergizi konsep kefe sehat ini juga menawarkan edukasi atau pendidikan kesehatan khususnya di bidang gizi atau nutrisi. Edukasi nutrisi merupakan stategi yang kami usung untuk lebih mendekatkan masyarakat dengan gizi. Dalam hal ini, kami menampilkan slogan-slogan dalam bentuk brosur. Setiap menu yang kami sajikan dalam kafe sehat ini juga dilengkapi dengan pemaparan tentang kandungan gizi yang terkandung dalam produk tersebut serta berbagai informasi kesehatan lainnya sehingga mereka tidak hanya sekedar makan saja tapi juga tahu dan pahan akan kandungan gizi makanan yang mereka konsumsi.
       Dengan menampilkan kandungan gizi pada produk yang disajikan masyarakat sebagai konsumen akan menyesuaikan konsumsi makanannya dengan zat gizi yang dibutuhkan. Menurut Husaini (1997) Apabila makanan tidak cukup mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan, dan keadaan ini berlangsung lama, akan menyebabkan perubahan metabolisme dalam otak, berakibat terjadi ketidakmampuan berfungsi normal. Pada keadaan yang lebih berat dan kronis, kekurangan gizi menyebabkan pertumbuhan badan terganggu, badan lebih kecil diikuti dengan ukuran otak yang juga kecil.
       Konsep edukasi nutrisi yang kami tawarkan tidak sekedar memaparkan kandungan gizi yang terdapat dalam menu yang disediakan saja, tapi juga dengan menghadirkan pakar-pakar gizi (baik dari mahasiswa, dosen atau berbagai pihak yang bergelut dalam bidang gizi) untuk melakukan konsultasi gizi sehingga masyarakat akan tahu konsumsi makanannya berdasarkan umur, berat badan dan faktor yang yang mempengaruhi konsumsi makanan tersebut.
        Faktor umur sangat penting dalam penentuan status gizi. Kesalahan yang terjadi karena kesalahan ini akan menyebabkan interpretasi status gizi menjadi salah. Hasil pengukuran berat badan dan panjang tidak akan berarti kalau penentuan umur yang salah. Berdasarkan Puslitbang Gizi Bogor (1980), batasan umur yang digunakan adalah tahun penuh dan untuk anak 0-24 bulan digunakan bulan penuh. Contoh: Bulan usia penuh, Umur: 4 bulan 5 hari dihitung 4 bulan, dan 3 bulan 27 hari dihitung 3 bulan.
       Berat badan merupakan pengukuran yang terpenting pada bayi baru lahir. Dan hal ini digunakan untuk menentukan apakah bayi termasuk normal atau tidak (Supariasa,dkk, 2002). Berat badan merupakan hasil peningkatan/penurunan semua jaringan yang ada pada tubuh antara tulang, otot, lemak, cairan tubuh, dll. Berat badan dipakai sebagai indikator yang terbaik pada sat ini untuk mengetahui keadaa gizi dan tumbuh kembang anak.
       Penentuan berat badan dilakukan dengan cara menimbang. Alat yang digunakan sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut: (1) Mudah digunakan dan dibawa dari satu tempat ke tempat lain, (2) Mudah diperoleh dan relatif murah harganya, (3) Ketelitian penimbangan maksimum 0,1 kg, (4) Skalanya mudah dibaca, (5) Aman untuk menimbang balita.
       Intinya, hadirnta kefe sehat ini akan memberikan manfaat ganda kepada masyarakat. Selain menikmati makanan yang leasat dan bergizi mereka juga mendapatkan berbagai informasi kesehatan dan konsultasi gizi terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi pola konsumsi makanan seseorang sebagai wujud dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Makassar Sulawesi-Selatan.
Pihak-Pihak Yang dapat Mengimplementasikan Gagasan
       Untuk mengimplementasikan gagasan ini maka dibutuhkan kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak. Adapun pihak-pihak yang terkait yaitu:
-          Pemerintah daerah
Pemerintah daerah berperan sebagai pengambil kebijakan dan penanggung jawab program penanggulangan masalah gizi di tingkat daerah dan pihak yang mendanai langsung program melalui Angaran Pemerintah Belanja Daerah (APBD).
-          Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten/Profinsi
Dinas Kesehatan berperan sebagai pengevaluasi program.
-          Dinas Pertanian
Dinas Pertanian berperan menyediakan bahan tanaman pangan yang menjadi bahan dasar pembuatan menu dalam KASET seperti kelor, ubi jalar dll malalui konversi lahan pertanian.
-         Dinas Perikanan
Dinas perikanan berperan dalam mengontrol penyediaan berbagai jenis ikan yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan menu kafe sehat seperti ikan bandeng dll.
-          Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)
BPOM berperan mengawasi dan mengontrol peredaran menu yang disiapkan dalam kafe sehat ini yang diperuntukkan untuk masyarakat umum serta memeriksa aspek kualitas dan kesehatan menu tersebut tersebut.
-          Lembaga penelitian
Lembaga penelitian berperan meneliti kandungan gizi dari berbagai menu yang disediakan agar aman dikonsumsi.
-         Akademisi
Peran akademisi dalam pengimplementasian gagasan ini adalah sebagai konsultan atau pihak yang akan melakukan konsultasi terhadap konsumen dan pengunjung kafe sehat.
-         Pelaku industri
Dalam hal ini, pelaku industri diharapkan dapat bekerjasama dalam memproduksi menu yang kami tawarkan secara besar-besaran sehingga dapat memenuhi kebutuhan konsumen secara merata.
-         Masyarakat Makassar
Tidak dapat dipungkiri bahwa peran masyarakat dalam menyukseskan gagasan ini sangatlah penting. Pada posisinya, masyarakat dapat berperan sebagai konsumen yang akan mengimplementasikan perilaku hidup sehat setelah berkunjung ke kafe sehat.
       Melalui KASET “Kafe Sehat” berbasis edukasi nutrisi ini diharapkan mampu mempercepat penurunan prevalensi masalah gizi pada masyarakat kota Makassar sebagaimana yang telah ditetapkan  pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014 yang menargetkan penurunan prevalensi kekurangan gizi (gizi kurang dan gizi buruk) adalah <15,0% pada Tahun 2014 (Sarjunani, 2009). Secara garis besar pengimplementasian gagasan ini melibatkan triple helix yaitu: pemerintah, akademisi dan pelaku industrI (ITB, 2011).
Langkah-Langkah Startegis Implementasi Gagasan
•         Pertemuan di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota membahas solusi mengatasi penyebaran makanan yang tidak sehat dan berbahaya
•         penyampaian gagasan sebagai suatu program dan solusi kepada pemerintah Pemerintah Kota Makassar 
•         Sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi serta menginformasikan akan dampak dan bahaya yang ditimbulkan bila mengonsumsi makanan yang tidak sehat (mengandung zat-zat kimia yang berbahaya)
•         Penyiapan anggaran program KASET "Kafe Sehat" berbasis edukasi nutrisi
•         Survey dan pencarian/penyiapan bahan baku pembuatan menu yang ditawarkan
•         Pembuatan dan formulasi menu yang ditawarkan
•         Penelitian zat dan kandungan gizi produk yang dihasilkan
•         Penyetujuan dalam pendistribusian atau produksi produk oleh BPOM.
•         launcing atau pembukaan perdana KASET "Kafe Sehat" berbasis edukasi nutrisi 
•         Penyediaan menu yang ditawarkan dan pembagian brosur kepada konsumen
•         konsultasi edukasi gizi terhadap pengunjung oleh pihak akademisi
KESIMPULAN
       KASET “Kafe Sehat” Berbasis Edukasi Nutrisi Persembahan untuk Masyarakat Makassar merupakan suatu konsep gagasan yang dinilai mampu menjadi solusi pengadaan tempat makan yang sehat dan bergizi tanpa meninggalkan cita rasa yang least dan nikmat. Selain sebagai suatu alternatif solusi tempat makan yang unik gagasan ini juga mengusung konsep edukasi nutrisi yang pengimplementasiannya berupa pemberian konsep tentang informasi kesehatan serta konsultasi edukasi gizi oleh pihak-pihak yang bergelut dalam bidang nutrisi dan gizi.
       Dalam pengaplikasiannya KASET “Kafe Sehat” Berbasis Edukasi Nutrisi melibatkan berbagai komponen masyarakat mulai dari pemerintah (dinas kesehatan, dinas pertanian, dinas perikanan, Badan Pengawa Obat dan Makanan (BPOM)), akademisi (mahasiswa, dosen, dan peneliti) serta berbagai pelaku industri dan masyarakat umum khususnya masyarakat kota Makassar. Keterkaaitan antara pihak yang terlibat bagaikan suatu sistem yang saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Tanpa adanya kerjasama antara pihak yang terlibat maka gagasan ini tidak dapat terimplementasikan dengan baik.
       Dengan hadirnya KASET “Kafe Sehat” Berbasis Edukasi Nutrisi ini, diharapkan menjadi suatu solusi dalam meningkatkan derajat kesehatan suatu bangsa sehingga terciptalah generasi yang sehat dan cerdas. Konsep yang unik tentunya dapat menjadi sepak terjang dalam menarik konsumen untuk datang dan berkunjung ke kafe sehat ini. Dengan begitu pencapaian indonesia sehat secara cepat dapat terwujud.
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, Sunita. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Cetakan 9. Jakarta: PT SUN.
Anonymous. 10 Langkah Utama Tatalaksana Kep Berat /Gizi Buruk.        http://id.shvoong.com/medicine-and-health/nutrition/2059092-10-langkah-      utamatatalaksana-kep diakses tanggal 30 Oktober 2011
Azwar, A. 2004. Kecenderungan Masalah Gizi dan Tantangan di Masa Depan, Derjen Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan. Jakarta.
 Departemen Kesehatan R.I. 1999. Petunjuk Teknis Program Jaring Pengaman Sosial     Bidang Kesehatan. Jakarta : Depkes R.I.
Departemen Kesehatan R.I. 2000. Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) bagi bayi.           Jakarta: Dirjen Binakesmas Depkes R.I.
Depkes RI.  2006. Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2006-2010 Diluncurkan.             http://digilib.litbang.depkes.go.id
Depkes RI. 2010. Riset Kesehatan Dasar, Badan Penelitian dan Pengembangan   Kesehatan.
            Jakarta. http://www.depkes.go.id.
E-book Forum Satya Daya. Keterlibatan Triple Helix Dalam Pelaksanaan Kreativitas Masyarakat. Bandung: ITB.
Gesman, Hasanbasri, Lutfan. 2008. Penanggulangn Gizi Buruk Studi Keterlibatan          Puskesmas dan Ninik Mamak Alim Ulama Cerdik Pandai di Nagari Sungai          Dareh.Jogjakarta: UGM.
Handayani, Muasari, Nurdianis. 2008. Kesehatan dan Gizi. Jakarta: PT. Penebar
            Swadaya.
Handayani, Sri. 1996. Bahaya MSG Dalam Bahan Makanan. Medan: USU Library.
Husaini. 1997. Gizi dan kesehatan masyarakat. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Mamak, Ninik. Strategi Penaggulangan Gizi Buruk. Pengaruh Fkator Umur dalam
            Penilaian Status Gizi.
Puslitbang Gizi Bogor. 1998. Prevalensi Gizi Berdasarkan Umur. Jakarta.
Sarjunani, Nina. 2009. Rancangan RPJMN 2010-2014 Kesehatan. Proses Penyusunan
             & Materi Kebijakan, http://www.litbang.depkes.go.id
Supariasa dkk. 2002. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi Individu.
            Jogjakarta: PT. Nusantara.
Suyatno. 2009. Pengetahuan Dasar Penilaian Status Gizi. Jakarta: PT. Indeks.

Pengikut